SELAMAT DATANG DAN BERGABUNG DENGAN KAMI

BACA DAN NIKMATILAH ARTIKEL-ARTIKEL SASTRA DAN BAHASA KAMI YANG TELAH TERMUAT DI BEBERAPA MEDIA MASSA, BAIK DALAM BENTUK BAHASA JAWA MAUPUN INDONESIA!

PENYEMANGAT

KEJAR TERUS DUNIA MAYA, ENGKAU PASTI MENDAPATKAN SEGALANYA!
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Maret 2009

14. APRESIASI SASTRA

(oleh Karti Tuhu Utami )
(termuat di Majalah Median LPMP Surabaya, Vol.VI.No.1 Juni 2008)

Setiap pembelajaran bahasa (baik Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, maupun Bahasa Jawa) mencakup empat aspek keterampilan berbahasa, yaitu aspek mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Selain keempat aspek tersebut masih ada satu kegiatan berbahasa lagi, yakni apresiasi sastra.
Kegiatan apresiasi sastra sering terabaikan oleh guru bahasa dalam pembelajaran sehari-hari di sekolah. Banyak faktor penyebab tidak diajarkan/dilatihkannya kegiatan apresiasi sastra, diantaranya berkaitan dengan pribadi guru dan siswa itu sendiri.
Kaitannya dengan guru, misalnya: kurangnya kemampuan guru (hal ini disebabkan masih banyaknya materi bahasa yang diajarkan bukan oleh guru vak bahasa). Berkaitan dengan siswa, misalnya: kurangnya motivasi siswa untuk melakukan apresiasi sastra, karena kegiatan tersebut dianggapnya tidak bermanfaat atau tidak bisa dipergunakan untuk mencari kerja. Bukan hanya itu, di sisi lain ada yang beranggapan bahwa apresiasi sastra tidak efektif. Kegiatan apresiasi tersebut diyakininya sebagai suatu pemborosan, yang banyak menghabiskan waktu dan tenaga.
Sekilas orang memandang, apresiasi sastra memang nampak tidak efektif/berhasil guna. Mungkin mereka lupa bahwa tujuan setiap pembelajaran itu mencakup 3 ranah: kognitif (pengetahuan), psikomotor (keterampilan), dan afektif (sikap). Maksudnya, setelah proses pembelajaran berakhir siswa tidak hanya diharapkan cerdas pikirannya (kaya pengetahuan) dan mahir berbagai macam keterampilan (cekatan), tetapi juga harus “tanggap” sikapnya (dalam arti: memiliki perasaan, mampu membedakan dan memberikan penilaian, berjiwa seni, berakhlak luhur, berperilaku mulia, dsb). Kegiatan apresiasi sastra erat sekali kaitannya dengan ranah afektif tersebut.
Said Tuhuleley, wakil dewan redaksi majalah pendidikan Gerbang pun pernah berkata, “Jangan-jangan perkelahian pelajar yang marak belakangan ini salah satu penyebabnya ialah perasaan dan hati nurani para murid tidak terasah baik, dan jangan-jangan pula itu semua terjadi karena pendidikan sastra kita belum sepenuhnya diarahkan pada tujuan mulia itu.” (Gerbang, edisi 10, 2005: 5).
Sebenarnya, apresiasi sastra itu apa? Materi mana saja yang bisa diapresiasikan? Bagaimana cara mengapresiasikannya? Dsb. Apresiasi bisa diartikan sebagai kesadaran terhadap nilai-nilai seni dan budaya atau penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu (KBBI 1989: 46). Sedangkan sastra (kesusasteraan) berarti karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya (KBBI 1989: 786). Jadi, apresiasi sastra bisa diartikan suatu kegiatan untuk menilai/menghargai karya tulis yang artistik dan indah.
Pada materi pelajaran Mulok Bahasa Daerah/Jawa, materi yang bisa diapresiasikan diantaranya: crita cekak (Ind.cerita pendek), crita sambung (Ind.cerita bersambung), wacan bocah (Ind.cerita anak), dongeng, guritan (Ind.puisi Jawa), tembang (Ind.lagu Jawa), dsb.
Contoh mengapresiasi sastra:
1. Tembang “Ilir-Ilir”
Ilir- ilir ilir-ilir, tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo, daksengguh temanten anyar
Cah angon-cah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna, kanggo masuh dodotira
Dodotira-dodotira kumitir bedhah ing pinggir
Dondomana jlumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane
Sun suraka surak hore

Tembang Ilir-Ilir ini merupakan salah satu hasil karya sastranya Kanjeng Sunan Kalijaga, yang berisikan dakwah. Mengapa tembang tersebut penulis masukkan dalam kategori sastra? Karena tembang tersebut diungkapkan dalam bentuk tulsan/bahasa yang indah. Perhaikan syair tembangnya: Kata ilir-ilir diulang 2x, dilanjutkan kata sumilir, berikutnya kumitir dan pinggir. Persamaan bunyi suara ir mampu memperindah bahasa yang digunakan. Demikian pula pada kata sore, kalangane, rembulane, dan hore. Perulangan suku kata/bunyi e diakhir kata juga mempercantik bahasa yang dipergunakan. Oleh karena itulah tembang Ilir-Ilir bisa dikategorikan ke dalam salah satu bentuk hasil karya sastra.

Terjemahan Bahasa Indonesia dan apresiasinya
- Ilir- ilir ilir-ilir, tandure wus sumilir
(Ind. mulai bersemi-mulai bersemi, tanamannya sudah terlihat bersemi)
Maksudnya, tanaman para wali dan mubaligh berupa Agama Islam.
- Tak ijo royo-royo, daksengguh temanten anyar
(Ind. tanaman menghijau, seperti penganten baru)
Maksudnya, tanaman yang nampak tumbuh menghijau tersebut menyenangkan semua yang memandang bak menyaksikan penganten baru/sepasang muda-mudi yang sedang bersanding di pelaminan)
- Cah angon-cah angon penekna blimbing kuwi
(Ind. anak pengembala-anak pengembala panjatkan pohon belimbing itu)
Pengembala yang dimaksudkan adalah para penguasa negeri (pemimpin rakyat).Mereka dianjurkan segera melaksanakan Rukun Islam (memanjat belimbing). Belimbing memiliki 5 segi, yang mengkiaskan Rukun Islam.
- Lunyu-lunyu penekna, kanggo masuh dodotira
(Ind. licin-licin/walaupun licin, tetap panjatkan untuk membasuh kampuhmu/kain selimutmu)
Maksudnya, dalam memanjat belimbing (melaksanakan Rukun Islam) itu jalannya memang menanjak dan licin. Walau demikian tetaplah ber upaya mencapai tujuan. Ini dapat digunakan untuk bekal hidup kelak.
- Dodotira-dodotira kumitir bedhah ing pinggir
(Ind. kampuh-kampuhmu sudah rusak dan robek di bagian tepinya).
Maksudnya, keyakinan/kepercayaanmu salah, sudah tercampur animis me, yang membolehkan berbuat “Ma-lima”. Ajaran agamamu tanpa dasar/landasan yang haq (seperti wahyu), tetapi hanya berupa tahayul.
- Dondomana jlumatana kanggo seba mengko sore
(Ind. jahitlah kampuh/kain selimutmu yang rusak untuk bekal menghadap nanti sore)
Maksudnya, para penguasa negeri dan rakyatnya dianjurkan segera menjahit kain selimut (memperbaiki keyakinan) yang salah tadi dengan ajaran/Agama Islam. Itu semua dimaksudkan sebagai bekal/persiapan sewaktu-waktu dipanggil Allah SWT (meninggal dunia). “Mengko sore” atau nanti sore mengandung pengertian bahwa umur manusia itu merupakan takdir/ketentuan Sang Penguasa Jagad Raya.
- Mumpung jembar kalangane, mumpung padhang rembulane
(Ind. mumpung luas jangkahnya, mumpung terang bulannya)
Maksudnya, mumpung panjang jalannya, mumpung ada waktu untuk bertobat (belum meninggal), segeralah mengikuti ajaran Agama Islam.
- Sun suraka surak hore
(Ind. tepuklah, bertepuk-tanganlah sambil berucap ‘hore’)
Maksudnya, bersuka/bersenang-senanglah setelah berpegang teguh pada Agama Islam. Semoga Allah SWT memberikan anugerah bagi kita sekalian. (Sumber apresiasi dari Panyebar Semangat, edisi 43, 2007).

2. Guritan (Puisi Jawa)

ZIARAH
(Basuki Widodo)

dak tandur wangine kembang mlathi
pinangka rabuk watu nisanmu
ana lagu gumonthang
mbarengi runtuhe kembang semboja
siji mbaka siji

tanpa dak rasa srengengeku bakal angslup
kejepit nisan iki
nadyan ora dak ranti

Surabaya, 1989
Panyebar Semangat, No.20, 13 Mei 1989

Terjemahan Bahasa Indonesia dan apresiasinya
ZIARAH
Aku tanam semerbak wanginya bunga melati/sebagai pupuk batu nisanmu/ ada lagu berkumandang/bersamaan dengan jatuhnya bunga kamboja/satu persatu.
Tiada terasa matahariku akan tenggelam/terjepit nisan ini/walaupun tidak aku tunggu

Isi puisi Ziarah:
Berziarah kubur itu diibaratkan seperti orang sedang menanam bunga melati yang harum sekali baunya. Bisa juga dikiaskan seperti orang yang sedang memupuk tanaman sehingga semakin subur pertumbuhannya. Atau, bak orang menghibur yang sedang bersedih dengan lagu-lagu.
Tetapi, orang melakukan ziarah kubur itu tidak akan bisa selamanya. Sebab, semua manusia kelak akan meninggal dunia sebagaimana orang yang sedang diziarahi.

Amanat puisi ZIARAH:
Manusia hidup di dunia itu tak ubahnya seperti orang yang sedang antri mati. Maka dari itu ziarah kubur baik untuk dilakukan. Sebab, dengan bertindak demikian berarti mengingatkan manusia itu sendiri bila kelak pasti akan mendapat gilirannya.

Sebagaimana tertulis di atas bahwa apresiasi sastra bisa diartikan kegiatan untuk menilai/menghargai karya tulis yang artistik dan indah. Penyair Romawi Kuno, Horatius mengatakan bahwa mempelajari sastra itu “dulce et utile” atau menyenangkan dan bermanfaat (Dr.Dendy Sugono, 2003). Menyenangkan dapat dikaitkan dengan aspek hiburan yang diberikan sastra. Sedangkan bermanfaat dapat dihubungkan dengan pengalaman hidup yang ditawarkan sastra.
Konsep Horatius inilah yang harus ditanamkan guru pada siswa, agar siswa memiliki motivasi tinggi dalam mempelajari sastra, tentu saja konsep tidak sekedar hanya diajarkan sebagai pengetahuan melainkan harus disampaikan dalam bentuk latihan-latihan. Dengan demikian siswa akan memperoleh pengetahuan nyata dan berharga dalam kegiatan apresiasi sastra itu sendiri.***

12. Pembelajaran Sastra dan Permasalahannya

( oleh Dra. Karti Tuhu Utami )
(termuat di Tabloid Info, Vol. 5, No. 03 Tahun 2006)

Bagaimanakah pembelajaran sastra yang sebenarnya itu? Sudahkah para guru melaksanakannya? Adakah hambatan dalam melakukannya? Apa manfaat bagi siswa bila sastra diajarkannya? dsb. Barangkali segudang pertanyaan akan muncul bila kita berbicara masalah sastra.
Pernah terlontar sebuah pertanyaan dari seorang siswa saat penulis mengajarkan apresiasi sastra . Pertanyaannya sederhana sekali, “Bu, apa yang Ibu ceritakan itu sungguh-sungguh terjadi?” Penulis pun menjawab, “Ya tidaklah Nak!” Siswa melanjutkan, “kalau tidak, mengapa diajarkan? Percuma kan Bu, belajar kok yang bohong-bohong!” kilahnya jujur sekali tanpa beban.
Waktu itu penulis membahas cerita pewayangan, yakni kelahiran Adipati Karna. Pandawa lima itu kan mempunyai ibu yang berbeda. Pertama, Dewi Kunti dan yang kedua Dewi Madrim. Ibu Kunti dan Pandu menurunkan tiga putera, yakni Puntadewa, Yudistira, dan Arjuna. Sedangkan Ibu Madrim dan Pandu menurunkan putera kembar yaitu Nakula dan Sadewa. Sebelum Dewi Kunti menikah dengan Pandu, Kunti sudah mempunyai seorang anak bernama Karna. Kehamilan dan kelahiran Karna inilah yang memiliki keganjilan. Keanehannya, Dewi Kunti hamil bukan karena menikah, tetapi hanya dengan dipandang seorang dewa langsung hamil. Penulis sempat berkelakar saat itu dengan mengatakan, “Untung Nak, Dewa tersebut sekarang sudah tidak ada. Andaikan masih ada dan terus mengintip kita di sini, maka akan terjadilah kehamilan massal”. Para siswa pun tertawa mendengar kelakar penulis. Penulis melanjutkan, bahwa setelah kejadian itu, Dewi Kunti pun sering menangis akan takdirnya itu. Dia merasa kecewa dan sedih, mengapa harus hamil, padahal belum bersuami? Dia tak henti-hentinya berdoa, agar diberikan petunjuk dan jalan keluarnya. Akhirnya, Sang Dewa tersebut memberikan keajaiban lagi pada Sang Dewi. Sang jabang bayinya lahir tidak sebagaimana mestinya, tetapi ditakdirkan terlahir melalui sebelah telinga Sang Dewi Kunti. Oleh karena itulah, bayi tersebut diberi nama Karna, yang berarti telinga.
Dari sinilah muncul pertanyaan seorang siswa yang kritis tadi. Mendengar pertanyaan yang demikian, penulis tidak marah. Sebab pertanyaan tersebut cukup masuk akal dan tidak berkelebihan sama sekali. Sambil tersenyum, penulis pun memutar otak untuk mencarikan jawaban yang memuaskan. Akhirnya, penulis temukan jawaban itu dengan memberikan contoh-contoh film layar kaca. Apakah certa dalam sinetron ‘Bawang Merah – Bawang Putih’ itu sungguh-sungguh terjadi? Apakah ‘Kisah Sedih di Hari Minggu’ nyata adanya? dsb. Tentu tidak bukan? Tetapi, kenapa murid menontonnya, mengapa siswa menyukainya?
Selanjutnya, penulis menjelaskan bahwa setiap karya sastra yang dicipta, pasti ada maksud, pesan atau amanat yang ingin disampaikan oleh pencipta/pengarangnya. Pesan tersebut ada yang tersurat, ada pula yang tersirat didalamnya. Pembaca/penonton harus mampu mencari dan menemukan serta mengambil hikmah dan harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (itu yang merupakan pesan positif). Adapun contoh yang bersifat negatif, pengarang mengamanatkan agar yang demikian itu ditinggalkan.
Seperti dalam cerita pewayangan tadi, sepertinya pengarang berpesan kepada kaum Hawa bahwa setiap wanita harus bersedih atau minimal memiliki rasa malu saat hamil tanpa suami/sebelum menikah terlebih dahulu. Jangan meniru budaya barat, beranak terlebih dahulu barulah menikah. Selain tidak beradab, itu kan juga melanggar ajaran agama. Kurang lebih demikian yang bisa penulis jelaskan pada siswa kelas 3 (tiga) SMP waktu itu.
Kembali pada pokok persoalan di atas, yakni tentang pembelajaran sastra. Penulis sering melihat bahwa pembelajaran sastra di sekolah hanya sebatas mengajarkan ilmu tentang kesastraannya saja, belum pada apresiasinya. Maksud penulis begini, guru hanya mengajarkan sastra ialah ….., apresiasi sastra adalah …. , yang termasuk Angkatan Balai Pustaka yaitu …. dst. Ini berarti, guru mengajar tentang pengetahuan sastra, bukan apresiasi sastra. Padahal tujuan pembelajaran sastra, bukan hanya menanamkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan serta nilai dan sikap. Kalau kegiatan apresiasi sastra kurang/tidak dilatihkan, maka kecerdasan emosional siswa tidak meningkat dan hati nuraninya tidak terasah dengan baik.
Dalam buku ‘Emotional Intelligence –Daniel Goleman menyatakan bahwa generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional daripada generasi sebelumnya: lebih kesepian dan pemurung, lebih berangasan, dan kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, lebih impulsive dan agresif. Pernyataan ini merupakan hasil sebuah survei besar-besaran terhadap orantua dan guru-guru yang memperlihatkan adanya kecenderungan yang sama di seluruh dunia.
Kalau penulis boleh berpendapat, salah satu faktor penyebab kesulitan emosional siswa adalah kesalahan para pendidik dalam mengaplikasikan ilmunya. Guru sering lupa bahwa kewajibannya di sekolah ada dua, yaitu mendidik dan mengajar. Sementara ini yang guru kejar adalah kecerdasan otak siswa dan sering mengabaikan kecerdasan emosionalnya. Akibanya, siswa memang cerdas dan pintar, tetapi kadang sering curang. Siswa memang pandai dan lihai, tetapi sering tidak berperasaan, dsb. Bapak Said Tuhuleley (wakil redaksi majalah pendidikan ‘Gerbang’} pun berkata, “Jangan-jangan perkelahian pelajar yang marak belakangan ini salah satu sebabnya ialah perasaan dan hati nurani para murid tidak terasah baik, dan jangan-jangan pula itu semua terjadi karena pendidikan sastra kita belum sepenuhnya diarahkan pada tujuan mulia itu” (Gerbang, edisi 10, th.2005: 5).
Bila penulis amati di lapangan, guru bahasa bukan tidak mau menerapkan apresiasi sastra saat pembelajaran, tetapi memang ada beberapa permasalahan yang harus dipecahkan, diantaranya :
1. Di beberapa sekolah, mata pelajaran bahasa masih diajarkan oleh guru yang bukan vaknya, karena memang kekurangan tenaga guru bahasa tersebut.
2. Kekurangan literature yang berkaitan dengan materi dan metode tentang pembelajaran sastra atau apresiasinya, yang berakibat dangkalnya pengetahuan guru bahasa itu sendiri. Materi saastra guru hanyalah sebatas buku yang harus diajarkan kepada siswanya saja.
3. Guru bahasa hanya lebih banyak mengajarkan aspek kebahasaan dan sedikit keterampilan berbahasa serta mengabaikan kegiatan apresiasi sastra.
4. Guru bahasa enggan melatihkan apresiasi sastra pada siswanya, sebab kegiatan apresiasi menyita banyak tenaga dan pikiran. Lebih-lebih bagi guru bahasa yang memiliki bisnis tertentu, kegiatan apresiasi sastra benar-benar akan dianggap sesuatu yang idak menghasilkan atau merugikan.
5. Keterbatasan waktu tatap muka yang tersedia, yang didukung dengan saratnya bahan/isi kurikulum. Akibatnya, siswa tak sempat melaksanakan apresiasi sastra secara baik atau mungkin sempat melakukannya, tetapi tergesa-gesa sehingga hasilnya tidak maksimal.
6. Kurangnya minat siswa pada materi sastra dan kegiatan apresiasinya. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran sastra yang kurang/tidak menarik dan juga kurang luasnya pengetahuan siswa tentang tujuan pembelajaran sastra. Sehingga siswa beranggapan bahwa materi sastra kurang layak dikonsumsi dan meremehkannya.
7. Guru dan kepala sekolah salah dalam menanamkan disiplin ilmu, yang lebih mengutamakan materi Ebtanas saja. Padahal itu hanya melatih kecerdasan intelektual siswa dan sama sekali tidak mengasah kecerdasan emosional anak bangsa. Guru dan kepala sekolah sering lupa bahwa tujuan pembelajaran meliputi 3 aspek yakni menanamkan pengetahuan, memberikan keterampilan, serta menumbuhkan nilai dan sikap siswa.
8. Adanya toleransi yang tinggi dari guru bahasa itu sendiri, mengingat tugas-tugas siswa dari materi pelajaran lain yang sudah bertumpuk-tumpuk sehingga kegiatan apresiasi sastra harus dikurangi.
9. Semakin pesat dan majunya teknologi dan industri, sehingga semakin merangsang setiap anak bangsa untuk segera mempelajarinya. Lebih-lebih disadarinya bahwa masa depan pembelajaran teknologi dan industri tesebut lebih menjanjikan daripada harus mempelajari sastra dan apresiasinya.
10. Kurangnya dukungan orangtua akan pembelajaran sastra. Orangtua enggan membelikan buku-buku bacaan yang berkaitan dengan sastra, sehingga siswa turut menjauhinya.
Demikian pembelajaran sastra dan beberapa permasalahan yang bisa penulis sampaikan, mudah-mudahan menjadikan perhatian kita bersama, sekaligus menggugah semangat para guru bahasa pada khususnya dan para pendidik pada umumnya.*

Jumat, 19 September 2008

9. Nandur Budi Pekerti Luhuring Siswa Liwat Geguritan

(termuat di Majalah Panyebar Semangat, No.6, Taun 2003)

Kaya kang kawuningan yen pemerintah kita wiwit mrogramake Pendhidhikan Budi Pekerti liwat Pendhidhikan Dhasar (SD/MI, SLTP/MTs) lan Pendhidhikan Menengah (SMU/SMK/MA) sacara komprehensif, sinambungan, lan sinergis. Strategi tumapake program Pendhidhikan Budi Pekerti iki diorganisasekake minangka bagean integral saka mata pelajaran kang relevan kayadene Pendhidhikan Agama, PPKn, sarta Basa lan Sastra Indonesia. Dene tumindake wiwit dilaksanakake TP. 2001/2002.
Apa ta sing dikarepake Pendhidhikan Budi Pekerti iku? Pendhidhikan Budi Pekerti yaiku proses pendhidhikan kang ditujokake kanggo ngrembakakake nilai, sikap, lan perilakune siswa kang nyunarake akhlak kang mulya/luhur. Dene nilai-nilai budi pekerti sing dikarepake, upamane: amal saleh, amanah, duweni prasangka becik, kerja kanthi semangat, wani tumindak bener, wani nanggung resiko, dhisiplin, duweni imtaq, duweni inisiatif, prasaja, konstruktif, tanggung jawab, tenggang rasa, wicaksana, cerdhas, cermat, demokratis, dinamis, efisien, gemi, ekhlas, jujur, ksatriya, kreatif, mandiri, manusiawi, ngurmati panemune liyan, ngurmati wektu, prodhuktif, sregep, duweni rasa isin, sabar, setya, adil, sopan-santun, tawakal, ulet, lsp. (Pendidikan Budi Pekerti, Deppenas Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Jakarta, 2000).
Para pendhidhik umume lan mligine para guru nyambut kanthi becik anane programing pemerintah mau. Eling-eling arep diwiwitine Pasar Bebas Asia-Afrika (AFTA) ing taun 2002 iki lan bakal tekane Pasar Bebas Internasional (NOFTA) ing taun 2010 mengko. Kita bisa mbayangake ing pasar bebas kasebut, pira cacahe prodhuk-prodhuk manca sing bakal mlebu menyang negarane dhewe. Mesthine, tekane prodhuk-prodhuk mau uga dibarengi karo budaya-budaya manca kasebut. Yen nganti pondhasi budi pekerti luhure siswa/generasi mudha kita ora kuwat, generasi-generasi mudha kita bakal kanthi gampang kena pengaruh budaya-budaya asing mau. Kamangka budaya-budaya kasebut durung mesthi yen cocok karo situasi kondisi bangsa kita Indonesia. Mula saka iku Pendhidhikan Budi Pekerti kang dadi programing pemerintah iki diajab bisaa kanggo tameng/filter mlebune budaya-budaya asing kasebut.
Senajan ta programe pemerintah mung nulisake mata pelajaran kang relevan iku Pendhidhikan Agama, PPKn sarta Basa lan Sastra Indonesia, dene mata pelajaran Mulok Basa lan Sastra Jawa ora katut tinulisake, guru-guru basa Jawa aja banjur nglokro. Yen manut penulis, mata pelajaran Basa Jawa relevan banget kanggo nandur budi pekerti luhure siswa liwat perangan materi apa wae. Bisa liwat wacanane, kosa katane, strukture, tulisan aksara Jawane, unggah-ungguh basane, luwih-luwih liwat apresiasi sastrane.
Ing ngisor iki penulis nyoba nyuguhake geguritan (salah siji perangan materi apresiasi sastra) kanggo nandur budi pekerti luhure siswa.
Tuladha:
a. Sun nggegurit:
Kahanan jaman samangka,
Sipating mudhi lan mudha,
Srawunge saya ndadra,
Raket nilar ing weweka,
Tan kadya jaman samana,
Tansah nganggo tata krama
(Ringkesan lan Latihan Basa Jawa, kaca 15, Cempaka Putih, Solo)

Yen ginancarake, guritan kasebut dadine mangkene:
Sun nggegurit:
Kaanan ing jaman saiki (jaman era globalisasi)/ sifate pemudha lan pemudhi/ pasrawungane saya kendel (wani)/ pasrawungane dadi rumaket nganti ninggal pangati-ati/ ora kaya jaman biyen (kuna)/ priya lan wanita anggone srawung tansah nganggo tata krama.
Sawise ginancarake, guru mau bisa crita marang siswane akibat-akibate pasrawungan bebas kang ditindakake pemudha-pemudhi ing jaman saiki, upamane: dumadine kasus pelecehan seksual, ilange martabate kaum wanita, para siswa dadi kesusu utawa selak kepengin omah-omah (kamangka durung cukup umure), para siswa dadi pedhot/putus sekolah, para siswa dadi padha ora semangat sekolah lan sinaune. Jalaran mung ngeling-eling kanca rakete, bisa uga dadi dhemen ngapusi wong tuwane (pamit budhal sekolah, jebul mbolos lan dolan karo sayange), lsp.
b. Mbarang
bocah cilik manis kakang-adhi
runtang-runtung nyang endi-endi
nyangking angklung saka bumbung
mlebu lurung metu lurung

bocah cilik manis kedhana-kedhini
runtang-runtung mbarang saparan-paran
ngupa boga nyambung panguripan sadulitan
nambal nistha sing lunga-teka wira-wiri, nrenyuhi

nembanga lagu-lagu, memelasi
mbukak babad ngenesi ati
koncatan bapa-biyung, dheweke tininggal keri

bocah cilik manis kedhana-kedhini
runtang-runtung nyang endi-endi
dina-dina uripe kaliput ayang-ayange mega
( Dyan Annimataya Soer )

Yen ginancarake mangkene:
Ngamen
Bocah cilik loro kakang-adhi kang manis/ tansah runtang-runtung bebarenngan menyang ngendi-endi/ kekarone padha nyangking angklung saka bumbung/ mlebu-metu kampung turut sadawane dalan.
Bocah cilik loro lanang-wadon tunggal bapa biyung/ tansah runtang-runtung bebarengan ngamen ing saparan-paran/ golek pangan kanggo nyambung panguripan sawatara ing alam donya/ kanggo nutup kekurangan utawa kecingkrangan kang lumintu tanpa kendhat, kekarone yen sinawang katon tansah nrenyuhake.
Kekarone bola-bali nembangake lagu-lagu, kang isine melas banget/ isine tembange nyritakake sejarahing uripe kang ngenes-enesi ati/ bocah loro mau tininggal seda bapa-biyunge, ora duweni sanak-sadulur, mung kari dheweke sakloron.
Bocah cilik loro lanang-wadon tunggal bapa-biyung/ tansah runtang-runtung bebarenngan menyang ngendi-endi/ saben dina uripe mung tansah susah lan ora nate tinemu bungah.


Sing bisa dicritakake guru marang siswane ing guritan kasebut yaiku kita minangka manungsa kang urip ing alam donya kudu duweni rasa welas asih mring sapepadha, luwih-luwih maranng bocah yatim piatu. Urip ing alam bonya ngono sedhela, ibarate mung mampir ngombe. Rodha panguripan bakal terus muter, ana kalane ing dhuwur lan ing sawijine mangsa bakal ana ngisor. Samangsa ing dhuwur kita kudu tansah eling, yen sing gawe kita enak, kepenak, seneng, sarwa kecukupan, tansah mubra-mubru iku Gusti Allah. Mula yen ndeleng bocah ngamen kaya ing guritan mau, kita kudu tumindak dermawan. Samangsa kita kepeksa ora bisa derma/asung paweweh, kita kudu alok kanthi basa kang alus, dudu mawa tembung kasar utawa ngina. Pancen yen digathukake klawan kahanan jaman saiki, wong ngamen ngono beda-beda tujuane. Ana sing mung karana hobi (ngene iki sok-sok, ora golek dhuwit, nanging mung kanggo ngembangake bakat/golek pengalaman wae). Ana sing pancen kanggo golek dhuwit. Sing golek dhuwit iki ya isih ana werna loro wujude. Ana sing temen-temen ngupaya dhuwit kanggo nyambung uripe lan ana uga sing olehe dhuwit mung kanggo maksiyat, upamane: kanggo tuku narkoba, kanggo dolan ing papan pelanyahan, kanggo judi/main utawa omben-omben, lsp. uwal saka kabeh iku mau, kita ora perlu golek-golek lan kepengin weruh tujuane wong ngamen, mung wae rak katon cetha ta bedane antarane sing temenan lan sing ora. Yen pancen kita duwe, ya ayo tumindak sedhekah lan yen dhong ora duwe, ya nganggoa tembung kang manis.

c. Critakna Kang Trawaca
wus dakwaca guritanmu
atiku sakal geter
bener, urip iki pancen
kebak misteri, ing ngendi-endi
srengengene ngemu pedhut

wus dakwaca guritanmu
mripatku kala-kala kembeng
apa bener kabeh iki bakal muspra
cuthel, kaca candhake ora ana

critakna,
ana apa ing sajroning puspa kang mekrok kae
gumenggrenge lar tawon kang kumudu nyesep madu
lan barat kang pijer ngulandara

ana apa sabenere
critakna
kang trawaca
(Mukti Sutaman SP)

Yen ginancarake mangkene:
Critakna Kang Trawaca
Aku wis maca critamu ing guritan/nalika dakwaca atiku sakala dadi geter/ bener critamu, yen urip ing alam donya iki pancen/ kebak dening misteri, misteri mau pancen ing ngendi-endi/ tuladhane kaya srengenge kang lagi katutupan pedhut.
Aku wis maca critamu ing guritan/ nalika dakwaca mripatku kala-kala kembeng luh/ aku isih durung precaya nemen/ apa bener kabeh ing alam donya iki bakal muspra/ cuthel (kandheg), crita ing alam donya bakal ora ana maneh kaca candhake (terusane).
Kanca ayo critakna/ ana misteri apa ing sajroning puspa (kembang) kang mekrok (mekar) kae/ swara gumenggrenge lar tawon kang kumudu-kudu nyesep madu/ lan barat (angin) kang tansah ngulandara (ngumbara).
Ana apa sabenere ing alam donya iki/ayo enggal critakna/ critakna kanthi trawaca (cetha/gamblang).

Sing bisa dicritakake marang siswa tumrap guritan kasebut yaiku yen alam donya ngono ora langgeng sipate. Alam donya iku kebak dening misteri. Manungsa iku kudune gelem mikir-mikir sakehing misteri mau, upamane: geneya ana srengenge kok ketutupan pedhut? Ana kembang kok bisa mekrok (mekar)? Ana lar tawon kok bisa nyuwara gumenggreng lan geneya tawon kok seneng nyesep madune kembang? geneya uga angin kok terus ngulandara (ngumbara) lan ora gelem mandheg? Sejatine yen dipikir-pikir sing nyipta lan sing nitahake kabeh mau ora liya ya mung Gusti Allah, semono uga sakabehing isine alam donya iki. Lan prelu kawuningan yen kabeh mau mupangate mung kanggo nyukupi kebutuhane manungsa. Sabanjure kabeh ing alam donya iki pancen ora lestari. Kahanane donya iki yen wis titi mangsane bakal mandheg (ing dina kiamat). Sing langgeng, lestari, lan terus abadi yaiku Sang Khaliq (Gusti Allah) lan alam akherat kang wis ciniptakake.
Ing dhuwur kasebut mung sawatara tuladha kanggo nuwuhake budi pekerti luhure siswa. Guritan-guritan kasebut bisa dijupuk saka buku-buku piwulangan, kalawarti-kalawarti basa Jawa utawa saka Antoligine Bapak Suripan Sadi Hutomo. Kanthi memaca lan mangerteni isine guritan, diajab bisaa siswa thukul sopan-santune, semangate, kejujurane, welas asih mring sapepadha, andhap asor, iman lan taqwane, lsp kaya kang katulis ing nilai-nilai budi pekerti sajrone programe pamarentah kasebut. Ing SLTP iku rak ana materi geguritan kang kudu diwulangake marang siswa. Sadurunge diwaca, siswa rak ya kudu ngerti dhisik karepe. Mula saka iku guru kudu bisa nerangake siji mbaka siji tembung-tembunge kang angel (mawa pegangan bausastra Jawa). Sabanjure njlentrehake ukara siji lan liyane, terus digathuk-gathukake. Ing saben padane lan pungkasane ngupaya bebarengan karo siswane kanggo mangerteni isine guritan kasebut. Sepisan maneh dakambali, sing bisa kanggo nuwuhake budi pekerti luhure siswa iku dudu kok liwat geguritan wae, bisa uga liwat tembang Macapat, liwat crita cekak, dongeng, utawa apresiasi sastra liyane. Materi-materi kabeh mau mung minangka srana kanggo nggayuh tujuwan. Sebab, saben karangan (kang wujud sastra utawa dudu)mesthi duweni pesen sing arep disampekake dening pangriptane marang pamaca. Lan pesen-pesen mau mesthi bakal migunani tumrap ngaurip ing madyaning bebrayan, mulane ya kudu digoleki. Muga-muga sing daktulis iki bisa nggrengsengake semangate para guru basa Jawa anggone kiprah ing era globalisasi iki.

8. Ngonceki Isine Crita Sambung “Keplesed” Anggitane Ismoe Rianto

(termuat di Majalah Panyebar Semangat, No.49, Taun 2002)

“Keplesed” mujudake crita sambung kang mawa tema detektif. Tembung “keplesed” ateges kemletre (amarga lunyu/ora pener/ora klakon apa kang dikarepake)-bausastra Jawa dening S. Prawiro Atmodjo, 1999, kaca 333. Ing crita sambung kasebut “keplesed” nggambarake pasrawungane kenya aran Dian Anggraeni karo Adhek (= Digdhaya/jeneng asline) kang kurang pangati-atine, saengga ngakibatake cilakane kenya mau. Pralambang sesrawungan kenya klawan priya kang memper karo paraga utama Dian Anggraeni karo Adhek iki dicethakake maneh dening pangripta ing episode sabanjure yaiku kanthi munculake paraga sampingan aran Sumirah lan Yok. Sumirah uga ginambarake minangka pralambang kenya kang ora begja uripe jalaran kapusan dening sawijine priya kang aran Yok. Kanthi tuladhja loro iki , pangripta aweh sasmita yen banget meling marang kaum wanita supaya tansah ngati-ati anggone sesrawungan karo kaum priya. Luwih-luwih yen pancen durung tepung temenan. Aja nembe tepung wae, banjur terus gelem dipacari.
Saliyane pesen sinandi kang tinuturake pangripta marang pamaos, uga isih akeh maneh pesen kang tinulis ing crita sambung kasebut, ing antarane yaiku: Sepisan, polisi anggone interogasi marang pawongan kang tinuduh luput kudune wis ora mawa “kekerasan”, sebab wis dudu jamane maneh. Kapindho, ndunungake marang masyarakat, yen entuk surat panggilan saka kapolisen kudune ora perlu wedi, sebab wong sing diundang menyang kantor polisi iku durung mesthi yen duweni luput lan manawa wa mung dijaluki katrangan sawijine bab. Katelu, polisi utawa penegak hukum kudune duweni semboyan “luwih becik ngeculake wong sing luput, tinimbang kebacut matrapi paukuman marang pawongan sing ing tembene pranyata ora luput”. Kapapat, pangripta ngyakinake bebrayan agung, yen sejatine tindak kadurjanan iku mesthi bakal kawiyak ing wusanane. Sebab, sarapi-rapine anggone nutupi tindak kadurjanan mau mesthi isih ninggal tabet. Kalima, pangripta njlentrehake marang masyarakat, yen sok sapaa wae sing ngadhepi wong akeh mesthi nemoni pakewuh. Gambaran ing madyaning bebrayan mangkene: nalika polisi mbengkas durjana (mbedhil/mateni/natoni), sing dirampog/sing dilarani dening durjana mesthi bakal seneng lan sarujuk marang tumindake polisi mau. Nanging suwalike, sing kelangan durjanane (apa iku wong tuwane/bojone durjana) mesthi bakal nganggep yen tumindake polisi mau “sawenang-wenang” utawa nglanggar HAM (Hak Azazi Manusia). Kanem, pangripta aweh sindiran alus marang polisi/aparat negara, yen samangsa polisi durung kasil/durung entuk gawe saka kuwajibane mbengkas durjana, polisi mau ora perlu isin marang masyarakat, nanging polisi kudune isin marang awake dhewe sing wis diblanja negara. Iki ngemu teges, yen sejatine polisi/penegak hukum kudu temen-temen anggone nindakake jejibahane miangka aparat negara kang uga pengabdi lan pengayom masyarakat. Sing pungkasan, pangripta aweh tuladha sing ora patut tinuladha yaiku pangajake wong lanang (bojo lanang) sing marahi sasar tumrap uripe wong wadon.
Donyane batur/rewang uga ginambarake pangripta ing crita sambung kasebut. Batur jaman biyen lan saiki iku adoh sungsate. Yen jaman biyen, sing jeneng baturiku dandan lan busanane sarwa lugu lan prasaja. Nanging ing jaman saiki, para batur padha manganggo niru bendarane lan malah ngungkuli bendara-bendarane. Ing crita kasebut, paraga Sumirah (bature Dian Anggraeni) kang minangka pralambange batur jaman modern. Suwalike, pangripta uga isih ora lali nggambarake batur modhel kuna sing diparagakake dening Mak Siti. Mak Siti, kang uga bature Dian, duweni anak aran Minto. Sarehne Minto tansah gawe kisruh ing bale somahe Dian Anggraeni, mula Mak Siti banjur pamit metu (undur dhiri) saka omahe Dian. Iku nuduhake yen batur kuna iku isih ngugemi adat wetanan kang aran tepa slira. Lan metune mau kanthi cara kang becik, yaiku ninggal Partiyem (gawanane) minangka gentine tenagane Mak Siti kasebut. Ing kene cetha banget gagasane pangripta kang mengku karep, yen sejatine unggah-ungguh pranatan Jawa ing madyaning bebrayan modern pancen wis luntur.
Pangajabe pangripta ing crita sambung kasebut uga katon ing kisah katresnane Johanes kang tinampik dening Dian Anggraeni. Ing kene pangripta ngugemi sesanti kuna “Wong lanang iku wenang milih lan wong wadon wenang nolak.” Kisah katresnane ginambarake sareh banget. Panampike Dian tumrap katresnane Johanes dibarengi karo tumindake Dian kang ngajokake kancane dhewe supaya gelem dadi sesulihe. Mula senajan ta ora dadi karo Dian Anggraeni, si Johanes lan bojone (tilas kancane Dian) mau panggah isih memitran apik. Pangajab kapindho yaiku pangripta nggambarake marang masyarakat kepriye pangrasane kawula cilik kang tininggal mati bendarane. Ing kene diparagakk\ake dening Partiyem kang banget rumangsa kelangan tininggal Dian Anggraeni. Pangripta pinter banget nguripake kahanan kasebut saengga mandhes tumus ing atine pamaos, nganti pamaos bisa mbayangake rumakete memitran/kekeluargaan kang wis rinonce sasuwene iki. Nanging sadurunge mangerteni kanthi tenanan critane, pamaos sujana marang kahanane Partiyem, mbokmanawa Partiyem kang dadi durjanane.
Bab donyane salon, pangripta katone paham banget. pangripta bisa nggambarake nganti tekan bab sing cilik-cilik. Kepriye kudune salon? Fasilitas apa wae sing prelu kanggo nyervispelanggan? Lsp. Semono uga donyane pelanyahan. Pangripta bisa nggambarake kahanane wanita pelanyahan nganti detil. Kepriye pakulinane wanita-wanita mau? Kepriye kahanan lingkungan sakiwa-tengene pelanyahan kasebut? Kepriye solah-tingkahe tamu-tamu sing padha mara? Apa wae lumrahe kang sumadya ing panggonan kasebut? Lsp.
Saliyane donyane salon lan pelanyahan, pangripta uga paham banget bab donyane detektif kang pancen dadi punjere crita sambung kasebut. Pangripta wasis banget anggone ngenggak-ngenggokake crita nganti pamaos kangelan anggone mbatang durjanane lan bolak-balik kecelik. Ing episode kapisan, pangripta wiwit nepungake paraga utama Dian Anggraeni kang ilang. Episode kapindho, ditemokake Dian Anggraeni mati ing kali dening Nardi lan Slamet. Episode katelu, polisi wiwit sujana marang Adhek (pacare Dian). Episode kapapat, pamaos dadi samar antarane Adhek karo Partiyem. Sebab, Partiyem ginambarake pangripta kanthi kahanan tangane grewelan, dhengkule kothekan nalika ngengakake lawang tumrap polisi. Ditambah maneh pipine bengep, mripate abang mbendhul, tangise mingseg-mingseg, eluhe dleweran, lan sedhela-sedhela gap-gapan. Kahanan sing ginambarake pangripta iku kaya-kaya lumrahe wong salah wae. Mulane ing atine pamaos banjur thukul pitakonan, mbokmanawa Partiyem durjanane? Episode kalima, sujana tumuju marang Sumirah (tilas bature Dian kang dadi pelanyahan). Episode kanem, munculake paraga anyar Sofi lan Wondo sarta Mumun. Episode kapitu, sujana tumuju marang pacare Sumirah kang aran Yok. Nanging pamaos banjur kecelik, nalika pangripta nyritakake paraga Yok mati kinroyok massa jalaran konangan anggone nyolong sepedhah montor. Episode kawolu, pamaos wiwit nyujanani anake Mak Siti (batur lawase kulawargane Dian) kang aran Minto. Sebab ing episode iki, Minto dicritakake asolah tingkah kurang becik. Episode kasanga, isih durung ana titik terang lan pikirane pamaos ginawe ngambang dening pangripta. Mung wae muncul paraga anyar aran Muntazzah. Episode kasepuluh, pamaos ginawe penasaran maneh dening pangripta, sebab anane paraga Muntazzah kang nangani Bank Kawan Sendiri bagian Teller. Episode kasewelas, wiwit ana titik terang kanthi anane paraga Dikdhaya (bojone Muntazzah). Nanging dening pangripta isih dikaburake maneh marang critane Mak Siti (batur lawase kulawargane Dian) bab katresnane Johanes kang nate tinampik Dian. Tuwuh maneh macem-macem pitakonan ing pikirane pamaos, “Sapa sejatine sing merjaya Dian?”. Episode karolas, pangripta munculake paraga anyar maneh aran Bahrul lan Dawir kang ana sambung rapete karo Adhek. Episode katelulas, crita sambung kasebut dipungkasi dening pangripta. Durjanane yaiku Adhek (jeneng asline Digdhaya) kang jebule bojone Mumun (jeneng liyane Muntazzah). Anggone merjaya Dian, Adhek rinewangan dening Bahrul lan Dawir.
Ana uga kahanan antagonis kang disuguhake pangripta nalika pamaos njingglengi tanggal kadadean yaiku dina Setu, tanggal telulas banjur episode ya dipungkasi nganti telulas. Iki mertandhani yen pangripta isih ngugemi adat kuna utawa gugon tuhon, yen telulas iku lambang sing ora begja (lambang angka sial). Bab iki kontras banget karo pengalamane pangripta kang wis mbeberake donyane pelanyahan, donyane salon kang modern, donyane batur mangsa saiki, lsp. Yen ngematake pengalaman moderne pangripta, ing atine pamaos banjur thukul pangundamana, “Wong modern kok isih precaya marang mistik.”
Ing episode kanem, katon ora lumrah critane lan duweni “kesan” kaya dianak-anakake. Episode iki nyritakake yen Sofi pacaran karo Wondo. Kekarone padu sadawane dalan banjur mandheg ing ngarepe omahe Adhek. Wondo terus lunga nggeblas ninggalake Sofi. Bubar iku Adhek metu saka omahe, terus nakono Sofi karo ngejak numpak taksi tumuju menyang Taman Pantai. Sing dikarepake pangripta, Sofi kuwi sejatine polisi/sersan kang nyamar lan arep golek sisik melik bab patine Dian, kang mbokmanawa ana sambung rapete karo Adhek. Gagasane pangripta ing episode iki mesthine arep menehi kesan kahanan kang “kebeneran/ora disengaja” nanging kesane pamaos malah kaya kahanan kang “digawe-gawe” lan ora salumrahe. Yen crita bab nepungake Mumun (kanthi kahanan ngandhut, kang minangka ponakane Adhek) ing sawijine rumah makan kesane pancen lumrah.
Sing rada mbingungi maneh yaiku crita ing episode kapapat, nalika digathukake karo episode kapisan. Ing episode kapapat, dicritakake yen Dian Anggraeni dipethuk P. Maksum (sopir) jam setengah wolu. Banjur jam rolas Dian tilpun arep nekani undhangan ing Gedhong Mahardika lan ora mulih dhisik (langsung budhal saka Salon Anggrek). Jam setengah sewelas Adhek teka numpak taksi ireng karo kancane lanang rambut gundhul. Ing episode kapisan dicritakake yen Dian Anggraeni wiwit jam lima wis siyaga budhal nekani undhangan kang diterake dening sopir sedhan aran Harry. Banjur jam pitu mampir Mutiara Plaza saprelu njupuk kado. Ing kono rak ora tinulis awan-bengine jam-jame mau. Semono uga tekane Adhek ing ngendi? Ing salon apa ing omahe Dian? Uga sopir-sopire mau, sapa iku Maksum? Sapa iku Harry? Kanggo mahami episode kapapat iki dibutuhake waktu kang rada akeh kanggo mbolan-mbaleni anggone maca. Nanging suwening-suwe pamaos ya dadi paham temenan critane, senajan ta wiwitane rada bingung. Mbokmanawa wae pancen digawe mangkono dening Ismoe Rianto.
Isih kabur maneh bab panemune buku hariane Dian ing episode kawolu. Yen karepe pangripta mung nyritakake latar wurine Dian Anggraeni supaya pamaos dadi saya tepung marang paraga utamane, pamaos pancen dadi saya ngerti kanthi detil bab kahanane Dian. Nanging yen karo pangripta banjur digathukake karo Adhek, apa perlune? Wong ing kono wis tinulis pangripta (liwat paraga Partiyem) yen Adhek wis ngerti yen Dian iku lola. Dadi senajan ta ora maca buku hariane Dian, Adhek pancen wis paham, sapa sejatine Dian? Nanging geneya tekane Adhek ing omahe Dian mau kok disujanani kira-kira arep njupuk buku harian kasebut lan penting sarta mbebayani tumrape Adhek? Kamangka isine buku harian mung riwayat uripe Dian lan kulawargane wae sarta ora ana bab wigati utawa donya brana kang aji maneh sing kudu diweruhi.
Pungkasane, dudutan sing bisa dijupuk saka crita sambung “keplesed” yaiku sacara global critane apik lan klebu nalar. Detektif kang dadi temane nyukupi syarate yaiku wis bisa gawe pamaos tansah kepengin weruh bacurte, tansah gawe penasarane pamaos lan nalika pamaos melu nebak-nebak durjanane, pamaos bola-bali kecelik. Playune pangripta anggone arep ndunungake durjanane pelik banget, dietutake mrene playune mrana lan dietutake mrana playune mrene, ngono wae sateruse. Sok ngonoa pamaos ora bosen lan kesel anggone ngoyak, terus wae dietutake salaku-playune nganti pungkasane mandheg ing angka sial “telulas”.
Pesen kang dadi pangajabe pangripta akeh banget. Ana sing wujud nasihat/pituture pangripta, ana sing wujud tuladha liwat paraga-paragane lan ana uga sing wujud sindiran alus. Pesen sing ora tinulis uga ana yaiku sinandi ing crita kang bisa dijupuk piguna lan paedahe dening pamaos.
Muga-muga kang dadi pangajabe pangripta kang uga mujudake kritik sosial sastra tumrape masyarakat bisa dipahami, dimangerteni, lan diamalake pamaos ing madyaning bebrayan agung sajrone panguripan sadina-dinane. Nuwun.

6. Nggulawenthah Siswa Mawa Tintingan lan Tetimbangan

(termuat di Majalah Panyebar Semangat, No.44, Taun 2001)

Nalika aku maca serataning priyayi lihur Wa Santo (KRT Widijatmo Sontodipuro) ing PS edisi 38 – tanggal 22 September 2001, aku dadi kesengsem, kepingin nerapake hamijangane para sepuh duk ing nguni. Kebeneran materi-materi sing diserat mau ana sambung rapete karo piwulangan Basa Dhaerah (Jawa) SLTP.
Ing wulangan kelas 2 cawu 1 SLTP ana Sub Tema “Ukara Sesanti/ Semboyan”. Ing kono ana materi kayadene: Mangan ora mangan yen kumpul, Alon-alon waton kelakon, Rawe-rawe rantas malang-malang putung, Becik ketitik ala ketara, Sapa jujur bakal mujur, Sing salah seleh, Sing goroh growah, Sing weweh bakal wuwuh, Sepi ing pamrih rame ing gawe, Wani ngalah luhur wekasane, Adigang adigung adiguna, Ana catur mungkur, Ana awan ana pangan, Rukun agawe santosa crah agawe bubrah, lsp.
Pancen bener ngendikane pyayi luhur mau, sok-sok slogan-slogane wong Jawa iku mung dadi guyonan. Mula kanggone guru basa Jawa kudu melu cawe-cawe lan enggal-enggal cancut taliwanda saperlu nglurusake panemu-panemu sing kurang trep mungguhe empan lan papane.
Sadurunge, aku iki ya nuwun sewu lho karo pamaos. Ing kene dudu kok aku nggurui utawa minteri, aku mung saderma urun rembug. Yen bisa pamaos mengko ya kersaa nulis, ben dhiskusine dadi rame lan pungkasane padha tambah kawruhe. Nanging aku ya nyuwun pangapura, basaku ora bisa alus kaya panjenengane Wa Sonto. Aku pancen kelairan generasi anyar, dadi bisaku ya basa Jawa Anyar.
Karepku mangkene, nalika kita mulang siswa bab ukara sesanti mau, kita kudu menehi tuladha pengalaman urip ing madyaning bebrayan sing positif lan negatif. Sing positif kudune ditrapake siswa lan sing negatif kudune dibuwang wae. Tuladha:
a.Rawe-rawe rantas malang-malang putung.
Tegese: Kabeh sing ngalang-alangi sedyane, bakal disingkirake.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Nalika jaman perang ngrebut kamardhikan biyen, para pahlawan padha asesanti kaya kasebut. Karepe, sapa wae sing ngalang-alangi gegayuhane para pahlawan mau, sing arep mardhekakake negara Indonesia bakal diperangi utawa disingkirake.
Negatif: Nalika siswa arep melu ulangan banjur asesanti kaya kasebut. Sebab dheweke ora sinau. Pokoke aku kudu nyontek/ngerpek. Sing ora gelem nyontoni utawa nglapurake aku anggone ngerpek kudu disingkirake/diancam arep dilarani.

b. Becik ketitik ala ketara.
Tegese: Becik utawa ala bakal ketara dhewe ing tembe burine.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Wong iku yen tumindak becik marang liyan mesthi entuk piwales becik uga saka sapepadhane. Senajan piwales mau saka wong liya/dudu sakawit sing dibeciki mau, samono uga suwalike. Lan ing tembe buri sing tumindak becik entuk ganjaran swarga, dene sing ala entuk piwales neraka.
Negatif: asiswa sing mempeng sinanune kok kebeneran bijine eleklan sing nyontek/ngerpek bijine apik-apik. Kamangka bapak ibu gurune ora ngerti tumindake siswa mau. (yen guru mrangguli bab kara ngene, guru kudu bisa njlentrehake yen sejatine biji apik kasebut mung sawijine “kemenangan sesaat’. Durung mesthi yen mengkone bakal nemu kabegjan. E…mbokmanawa siswa sing kaya mangkono mau bakal angel entuk pagawean. Jalaran nalika di-tes ora bisa mangsuli babar pisan).

c. Sapa jujur bakal mujur
Tegese: Sing tumindak jujur bakal nemu kabegjan sejati.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Wong sing jujur saparipolahe mesthi bakal pinercaya liyan ing kana-kene. Wong-wong kang kaya mangkono banjur dipasrahi jejibahan wigati, kayata: nyekel dhuwit utawa donya brana kang banget ajine.
Negatif: Siswa sing kurang mampu pikirane bakal mbatin, “Wah, yen aku jujur terus nalika ulangan mesthi ajur bijiku. Wis aku daknyonto/ngerpek wae!”
d. Sapa sing salah seleh
Tegese: Sapa sing sengaja tumindak salah bakal konangan.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Maling nyolong sepedhah motor banjur digepuki rame-rame dening masyarakat.
Negatif: Siswa sing bola bali ngerpek nalika ulangan ora nate konangan bapak ibu gurune. Sebab gurune ora pati open lan siswane wasis anggone nyimpen kerpekan.

e. Sing goroh growah
Tegese: Sapa sing tumindak goroh bakal entuk kapitunan.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Wong sing bola-bali tumindak goroh, lumrahe bakal didohi ing pasrawungan lan ora bakal pinercaya liyan.
Negatif: Siswa sing pinter banget gorohe (profesional), sok-sok malah akeh kancane. Sebab, ngomong sakngomong kepenak dirungokake, nganti sing ngrungokake kepranan atine.

f. Sing weweh bakal wuwuh
Tegese: Sapa sing gelem ngamal mesthi entuk ijol kang ngluwihi ngamale.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Wong sing seneng dana driyah mesthi bakal entukgentine dudu saka pawongan sing diwelasi mau. Iki uga mathuk karo ajaran agama “Ora bakal entek samubarang kang diwenehake, nanging bakal ditambah makaping-kaping dening Gusti Allah.”
Negatif: Para siswa ora gelem/angel tumindak ngamal, sebab yen dhuwite diamalake bakal entek lan ora bisa njajan.

g. Sepi ing pamrih rame ing gawe
Tegese: Tumandang gawe tanpa duwe kamelikan apa-apa.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Wong ing padesan yen ngedegake omah utawa duwe gawe mantu/nyunat utawa ndandani dalan, lumrahe nganggo sesanti kasebut.
Negatif: Para siswa kadhang-kadhang duweni panemu, “Kok enak nyambut gawe ora dibayar, lha tenagane, wektune, imbangane apa? Rak rugi. Waktu adalah uang.”

h. Wani ngalah luhur wekasane
Tegese: Sapa sing gelem ngalah bakal nemu kamulyan ing burine.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Kaya dongeng Cinderella utawa Bawang Putih-Bawah Abang. Paraga Cinderella sasuwene urip karo mbakyu-mbakyune, dheweke tansah tumindak ngalah. Pungkasane banjur dadi “Permaisuri”. Semono uga si Bawang Putih tansah ngalah karo Bawang Abang, pungkasane Bawang Abang nemu cilaka.
Negatif: Jarene siswa, yen bocah iku terus-terusan ngalahan mesthi bakal disepelekake liyan. Mulane yen ana sing ngajak gelut, ya ayo diladeni wae.

i. Adigang adigung adiguna
Tegese: Ngendel-endelake kekuwatane, keluhurane, lan kepinterane.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Wong iku yen duweni kekuwatan (ilmu bela dhiri upamane) utawa keluhuran (putrane pejabat upamane) apadene kepinteran sawijine bab, mesthine ora dituduh-tuduhake marang liyan. Sebab, senajan ta ora dipamerake, suwening suwe wong liya bakal ngerti dhewe. Yen katelune sipat mau malah dipamer-pamerake, wong liya ngarani dhiri kita “sombong”.
Negatif: Jarene siswa, yen kita duwe kekuwatan ora dituduhake liyan, kita diarani licik lan ora duwe daya/tenaga. Yen kita putrane priyayi luhur, ya kudu ngatonake keluhurane wong tuwa kita lan kita kudu luwih onjo, aja nganti kalah karo kanca liyane. Luwih-luwih yen duwe kepinteran, kabeh wong kudu ngerti marang kepinteran kita.

j. Ana catur mungkur
Tegese: Ora gelem ngrungokake rerasanan sing ora becik.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Wong kuwi yen wis dhuwur kawruhe lan alim agamane mesthi ora gelem yen dijak rerasan sing kurang becik tumrape wong liya.sebab saliyane nglakoni dosa, tumindak kaya mangkono iku ora ana paedahe.
Negatif: Siswa padha alok, lho yen ana kegiyatan rasan-rasan ora melu ngrumpi/ora ngrungokake mesthi bakal ketinggalan lan bisa-bisa dadi KUPER (kurang pergaulan).

k. Ana awan ana pangan
Tegese: Anggering srengenge isih sumunar Gusti Allah bakal paring rezeki/panguripan marang makhluke.
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Wong kuna biyen (embah/buyut kita) uripe tansah ayem tentrem. Kabeh ora ana sing padha ngaya anggone golek donya-brana. Panjenengane padha rumangsa cukup, marang apa sing diduweni saengga isih kober ngudang putrane, kumpul kulawargane lan bisa silaturahmi marang sanak-kadange.
Negatif: Siswa kita padha rumangsa ora trima yen wong tuwane sakloron aweh pangan mung apa anane. Dheweke banjr matur, yen urip mono kudu tansah usaha ben keturutan apa sing dadi pepenginane. Adhedhasar panyuwune anak kang werna-werna mau, wong tuwa banjur mburu rupiyah tanpa eling awan lan bengi sarta lali sanak famili.

l. Rukun agawe santosa crah agawe bubrah
Tegese: Kerukunan, ndadekake kasantosan, congkrah ndadekake kerusakan
Tuladha ing madyaning bebrayan:
Positif: Jaman biyen pemudha-pemudhi Indonesia kang beda suku bangsa, agama, lsp padha kumpul saperlu nganakake “Sumpah Pemudha”. Ing tanggal 28 Oktober taun 1928. Pemudha-pemudha Indonesia mau sadhar yen kerukunan iku marakake kuwat lan yen pecah-pecah bakal dimupangatake dening kaum penjajah.
Negatif: Para siswa padha migunakake sesanti kasebut yen arep ana ulangan. Ayo yen nggarap soal ulangan kudu sing rukun anggone “kerja sama” utawa conto-contoan. Sebab, yen rukun bijine bisa apik-apik lan yen ora rukun bijine panggah elek-elek.
Kanthi tuladha kaya ing dhuwur diajab bisaa siswa nerapake sesanti-sesanti kasebut ing sajroning urip saben dinane. Siswa wis ora bakal kleru maneh ing panemune lan negesine kanthi pikiran kang positif. Sebab anane ukara sesanti mono pancen duweni pangangkah kanggo nuwuhake semangat utawa krenteg lan pitutur marang sapa wae.
Tumrape guru basa Jawa anane materi “Ukara Sesanti/Semboyan” mujudake sawijine kalodhangan kanggo nyelipake Pendhidhikan Budi Pekeri. Sebab, tujuane Pendhidhikan Budi Pekerti iku kanggo ngrembakakake “Nilai, Sikap, lan Perilaku” siswa sing bakal nuwuhake akhlak kang mulya.
Yen manut “Pendhidhikan Budi Pekerti Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah” (Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Jakarta, 2000), strategi tumapake Pendhidhikan Budi Pekerti iku diorganisasekake minangjka bagian integral saka mata pelajaran kang relevan, kayadene: Pendhidhikan Agama Islam (PAI), Pendhidhikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) sarta Pendhidhkan Basa lan Sastra Indonesia. Senajan ta piwulangan Basa Jawa ora katut sinebutake ing kono, nanging matapelajaran Bahasa Daerah (Jawa) dakkira iya banget relevane kanggo nuwuhake budi pekerti luhure siswa kita kasebut.

5. Guru Basa Jawa Aja Nganti Kentekan Crita

(termuat di Majalah Panyebar Semangat, No.5, tanggal 2 Pebruari 2001)

Ana saweneh kanca guru sing duweni panemu, yen piwulangan Basa Jawa iku “monoton” utawa mboseni. Iki panemune sing dudu guru Basa Jawa mesthine. Yen manut aku ya ora. Sebab nyuguhake materi marang siswa iku gumantung gurune. Yen guru mau pancen mumpuni, materi apa wae, Matematika, apa Basa Inggris, apa Basa Indonesia, apa dene PPKn, lsp mesthi nyenengake lan siswa ora bakal bosen. Suwalike, manawa guru mau kurang wasis anggone nyugata utawa nransferake kawruhe marang siswa, bocah bakal bosen lan ora nggatekake. Mula saka iku guru tinuntut kudu aktif, kreatif, inovatif, lan duweni inisiatif kanggo ngolah kawruhe mau supaya dadi suguhan kang nengsemake.
Upama aweh piwulangan purwakanthi. Purwakanthi iki klebu materi piwulangan SLTP kelas siji cawu siji. Senajan wis kliwat cawune, nanging materi iki mengko isih kena kanggo ngedril siswa kelas telu sing arep ngadhepi EBTA. Purwakanthi asale saka tembung purwa kang ateges ngarep lan kanthi ateges gandheng. Dadi purwakanthi bisa ditegesi ana gandhengane/sambungane karo sing ngarep. Apa ta gandhengane iku? Gandhengane bisa swarane, bisa aksara matine (Ind. konsonan) lan bisa uga tembunge. Yen manut bausastra Jawa karyane S. Prawiro Atmodjo, purwakanthi yaiku tetembungan kang padha swarane utawa aksarane.
Puwakanthi iku kaperang dadi telu, yaiku purwakanthi guru swara, purwakanthi guru sastra, lan purwakanthi guru basa/lumaksita/wewiletan. Tuladha purwakanthi guru swara: becik ketitik ala ketara, sing jujur bakal makmur, plonga-plongo kaya kebo, lsp. Tuladha purwakanthi guru sastra: sluman slumun slamet, tata titi tatas titis, sing goroh growah, lsp. Tuladha purwakanthi guru basa: kolik priya, priyagung Anjani Putra; tepi wastra, wastra kang tumrap mustaka; timun munte telo lodheh, lsp.
Supaya siswa melu aktif marang lakune guru ing kelas, bandhingake purwakanthi karo istilah Indonesia. Purwakanthi padha karo “sajak/persamaan bunyi”. Yen purwakanthi cacahe mung ana telung warna, ing Indonesia ana nem warna (iki yen adhedhasar unine), yen adhedhasar panggonane seje maneh. Dadi purwakanthi ing basa Indonesia kepara luwih akeh. nem warna iku apa wae? 1. Sajak penuh, tuladhane: hati-mati, lantai-santai, lsp. 2. Sajak paruh, tuladhane: padi-peti, pisang-bintang, lsp. 3 Sajak mutlak, tuladhane: jua-jua, hijau-hijau, lsp. 4. Sajak aliterasi (sajak awal), tuladhane: lalu-lalang, warna-warta, lsp. 5. Sajak asonansi, tuladhane: tumbang-sumbang, datang-sayang, lsp. Sajak desonansi, tuladhane: tindak-tanduk, kocar-kacir, lsp.
Saliyane disambungake karo basa Indonesia, purwakanthi bisa uga digandhengake karo guritan. Tuladha:

Lagu Dolanan
Tu watu bunder dienciki mingar-minger
Ana maling mbedhah pager
Kecepit sikile minger
Asabetha-bethu-bether, asabetha-bethu-bether
-dhek jaman simbah durung lair
gambir-suruh mipir nyuwir
dhek jamane bapak tetak
wetenge sapa sing nate kebak?
+jaman kuwi mlayu, kanca
sapa ngira langite saya padhang
murah sandhang, murah pangan
ra keprungu truna sambat ra kuwat
bocah sekolah ngentekna ragat
Tu watu bunder dienciki mingar-minger
Laler gedhe jenenge kintel
Yen kwaregen thingel-thingel
Asabetha-bethu-bether, asabetha-bethu-bether
……………………………………………………………………………..
dening : Keliek Eswe
PS no.4, Januari 1994
Ing dhuwur iku tuladha guritan (Lagu Dolanan) sing migunakake purwakanthi guru swara lan purwakanthi guru sastra. Purwakanthi guru swarane bisa dideleng saka tembung kang mawa swara: er-er, ir-ir, ak-ak, ang-ang, at-at, lan el-el. Dene purwakanthi guru sastrane katon ing tembung kang mawa aksara mati: b - th.
Ing ngisor iki tuladha lagu dolanan sing migunakake purwakanthi guru basa. Lagu/ tembang dolanan lisan lawas iki biyen nate dienggo dolanane mbakyu-mbakyu/kakang-kakang kita nalikane rembulan ndadari. Kaya mangkene cakepane:
GOTRI
Gotri ala gotri nagasari
Riwul awal-awul jenang kadul
Dulan awan-awan ndelok mantin
Titenana mbesuk gedhe dadi opo
Podhang bako enak bako sedhang
Dhangklek eklak-eklek dadi welek

JAM SIJI
Jam siji kliwat limo, montor
Montore mlayu ngidul, Dullah
Dullahe tunggu sawah, wahlang
Wahlange miber-miber, beras
Berase dipususi, Siti
Sitine budhal kerjo, jombrot karete diodhot-odhot

Purwakanthi guru basane cetha banget ing tuladha tembang dolanan lisan lawas kasebut. Wanda pungkasan ri dienggo ing tembung riwul, wanda pungkasan dul diambali maneh ing tembung dulan, lsp.
Kajaba guritan wujud tembang dolanan, guritan gagrak anyar uga akeh sing isih metungake purwakanthi. Tuladha:

FINISH
nalika adzan ngumandhang ing kuburan
nalika kain kafan mbuntel badan
lan
nalika lemah abang nutup lawang
sakabehing tetandhingan wus mungkur
kita kari ngenteni
menang apa kalah?
Dening: Kayati
PS no.7 Pebruari 1996

Bisa uga purwakanthi sinambungake karo lelagon kreasi anyar kang wiwit didhemeni kawula mudha utawa siswa-siswa. Tuladha lelagon sing migunakake purwakanthi guru swara:

KUNCUNG
(karyane Didi Kempot)
cilikanku rambutku dicukur kuncung
kathokku saka karung gandum
klambiku warisane mbah kakung
sarapanku sambel korek sega jagung
kosokan watu ning kali nyemplung ing kedhung
jaman dhisik durung usum sabun …, pabrike rung dibangun
andhukku mung cukup andhuk sarung
dolananku montor cilik saka lempung
bis holopis kuntul baris
rekasane saiki wis
bis holopis kuntul baris
gegere gek mbok ndang uwis
tanggal limalas padhang njingglang bulane bunder ser-ser
aku dikudang suk yen gedhe dadi dhokter
tanggal limalas padhang njingglang bulane bunder ser-ser
bareng wis gedhe aku disuntik bu dhokter
ha na ca ra ka
iki cerita jaman semana
da ta sa wa la
iki cerita saka wong tuwa

Kanthi tuladha sing maneka warna mau siswa bisaa nggolek tuladha liya ing buku-buku padene kalawarti utawa ngrungokake kaset, yen wis bisa nemokake diajab bisaa uga siswa nyiptakake dhewe. Mesthine ciptakane mau ora padha babar pisan karo sing wis diterangake guru utawa sing ana ing buku. Upamane mangkene, tuladha purwakanthi guru swara: Siti ing kali wingi bengi, Sing mecucu duwe untu telu klambi ungu, Sing ngawur digusur Pak Sur menyang sumur, lsp. Tuladha purwakanthi guru sastra: Kang-kang kok kowe kandha kaya kuwi, Manuke mabur mangetan macane mlayu mangulon, Simbah saiki sarapan sambel sesuk sore saos sasi sawal sate, lsp. Tuladha purwakanthi guru basa: Aku kuna nanging nginguku kucing Landa, Klambi abang-abang mateng-tengah wengi ngipi ngawang, Nggawa kates-kates gantung- tunggak jati-jatidhiri, lsp. yen wis bisa nyiptakake dhewe ayeges siswa mau wis ngerti lan paham karo katrangane gurune. Siswa bisa dadi mudheng tegese slogan-slogan lawas, geneya kok wong bodho mesthi kaya kebo kok dudu kaya sapi utawa jaran. Kamangka kebo, sapi, jaran padha bodhone. Oh … iku nganggo purwakanthi guru swara (sing padha swara o-o). geneya wong pinter kok mesthi dadi dhokter, dudu dadi insinyur, menteri, presiden, lsp. samono uga tumpakane kok helikopter, senajan ta akeh jinis pesawat liyane. Oh … iku madhakake swarane (sing padha swara er-er-er).
Muga-muga sing daktulis iki bisa nambah semangate para kanca Guru Basa Jawa anggone lelumban ing madyaning pendhidhikan. Muga-muga uga bisa ndadekake Basa Jawa minangka suguhan kang nenarik anak-anak dhidhik kita. Aja nganti siswa ora nggatekake materi kita sing mung nyandhang predhikat MULOK. Aja nganti Guru-guru Basa Jawa kekurangan bahan utawa crita. Kanthi mangkono siswa tetep rumangsa handarbeni marang Basa Jawa lan kita duweni generasi sing bisa marisi sarta nerusake basa lan budaya kang adiluhung iki. Sing luwih wigati maneh, muga-muga ramalane Pak Esmiet ing PPIA taun 1989, “Lonceng Kematian Sastra Jawa taun 2009” ora bakal dumadi lan “Wong Jawa taun 2025 isih bisa Basa Jawa.” Iki dongaku lan pangarep-arepku sesambungan karo pitakone DR Pranowo, M.Pd. (Caraka, No.01/4/98) kang tinulis Sanggar Sastra Triwida Tulungagung ing PS No.4 – 27 Januari 2001. Nuwun.

3. Tetepungan Karo Tembang Macapat

(termuat di Majalah Jaya Baya, No.14 dan 15, tanggal 2 dan 9 Desember 2001)

Bab kasusastran Jawa iku pancen mujudake salah sijining tema materi piwulangan basa Jawa ing SLTP. Tema kasusastran iki isih diperang-perang maneh dadi sub tema-sub tema, ing antarane yaiku parikan, tembang Macapat, guritan, dongeng (gancaran lawas), crita cekak, lsp.
Ana unen-unen basa Indonesia “Tak Kenal Maka Tak Sayang”. Semono uga basa Jawa, yen ora tepung mesthi wae ora gelem nyemplung. Apa ta sing kudu ditepungake ing kene? Tembang Macapat sing dakkarepake. Yen aku aweh piwulangan marang siswa, tembang Jawa iku dakperang dadi petang golongan yaiku Tembang Dolanan, Tembang Macapat, Tembang Tengahan, lan Tembang Gedhe.
Tembang Dolanan lumrahe diwulangake marang bocah-bocah TK lan SD (kelas I lan 2), kayata: Jaranan, Menthog-menthog, Cublak-cublak Suweng, lsp. Tembang Macapat diwulangake marang siswa SLTP. Ing kene nganggo pathokan 11 warna cacahe. Ora dicritakake anane prabedan antaraning para ahli siji lan sijine, kang duweni panemu 9 warna lan 11 warna. Tembang Tengahan lan Tembang Gedhe ora dijlentrehake mligi ing piwulangan SLTP, mung sinebutake jeneng-jeneng wae. Banjur jeneng-jenenge Tembang Tengahan lan Tembang Gedhe mau sok-sok dienggo “Pengecoh” ing soal-soal ulangan basa Jawa kang awujud “Pilihan Ganda”.
Geneya ditepungake karo Tembang Macapat? Jalaran bocah-bocah wis ora kesengsem babar pisan marang tembang kasebut. Yen kita minangka guru banjur “Putus Asa” malah cures saperangane kasusastran Jawa kita. Nah … ing kene kita wiwit “Main Peran”. Upamane menehi tuladha/nembangake salah sijining Tembang Dolanan banjur nembang Pucung (Tembang Macapat sing paling prasaja). Yen anak-nak dhidhik kita isih durung nggatekake, coba tembangna salah siji Tembang Kreasi Anyar “Teh Poci”, apa “Prau Layar” apa liyane.
Nalika siswa wiwit ketaman atine, kita banjur nepungake Tembang Macapat kang cacahe ana 11 warna mau. Njlentrehake uga kang dadi paugeraning Tembang Macapat kasebut. Paugeraning Tembang Macapat iku ana telung warna, yaiku guru gatra, guru wilangan, lan guru lagu. Guru gatra yaiku cacahe gatra saben sapada. Guru wilangan yaiku cacahe wanda saben sagatra. Guru lagu yaiku dhong-dhinge swara ing saben pungkasan gatra. Supaya gamblang tanggapane siswa bab paugeran/wewaton Tembang Macapat iki, becike binantu nganggo basa Indonesia. Guru gatra: banyaknya baris setiap bait. Guru wilangan: banyaknya suku kata setiap baris. Guru lagu: jatuhnya vokal setiap akhir baris. Tuladha Tembang Pucung (Paugerane 4 gatra = 12u, 6a, 8i, 12a).
Pucung
Bapak Pucung dudu watu dudu gunung,
Sangkane ing Sabrang,
Ngon-ingone Sang Bupati,
Yen lumampah si Pucung lembehan grana.

Gegayutan karo paugeraning Tembang Macapat kasebut terkadhang siswa iku durung ngerti. Jalaran pemikiraning siswa mung isih tekan tataran apalan wae, durung nganti mangerteni karepe. Kanggo meruhi pangertening siswa, siswa becike tinuntut gawe Tembang Pucung sapada sing isine upamane jenenge kanca-kancane ing kelas. Siswa putri gawe tembang isine jeneng kanca lanang lan siswa putra Tembang Pucunge isi jeneng kanca wadone. Upamane:
Pucung
Tono Yitno Ardiansyah Gatot bagus,
Guntur Riyan Iwan,
Yanto Tarno Supriyadi,
Basuki Kartono Andik Sunar Yana

Sasti Wati Astutik Sri Mamik Luluk,
Narti Darti Susan,
Erawati Dwi Lestari,
Nunuk Puji Saraswati Veni Retna

Yen para siswa wis bisa nyiptakake Tembang Pucung kanthi trep lan laras karo paugerane, ateges siswa mau wis ngerti bab wewatoning Tembang Macapat. Banjur wenehana tuladha maneh Tembang Pucung sing isine cangkriman. Geneya kok isi cangkriman? Sebab Tembang Pucung iku pancen lumrah isi cangkriman.
Kaya kang wis daktulis ing dhuwur mau, iku rak Tembang Pucung wujud cangkriman, dene batangane yaiku gajah. Tuladha liyane maneh:
Bapak Pucung renteng-renteng kaya kalung,
Dawa kaya ula,
Pencokane wesi miring,
Prapteng wisma si Pucung ngumbar suwara.
(batangane sepur)

Tembang-tembang Pucung sing wujud cangkriman sing kaya sing daktulis iku wis umum banget. Saking umume nganti bocah-bocah weruh sadurunge tinulis lan tinerangake. Mulane, dadi ora narik maneh tumraping siswa. Ing ngisor iki tuladha Tembang Pucung wujud cangkriman anggitane Bapak Sudira, widya swara nalika Penataran Basa Jawa ing SMUN 3 Jombang tanggal 17-21 September taun 1998. panjenengane uga ngasta guru ing SLTPN 6 Surabaya.
Pucung
Bapak Pucung bojo slawe ora bingung,
Malah enak-enak,
Didis mangan pinggir kali,
Bubar mangan Pucung slulup sesamberan.
(batangane: bebek lanang)

Bapak Pucung angger butuh ngambung-ambung,
Yen juragan mangan,
Ngglibet sinambi ngriwuki,
Yen wis oleh Pucung nggereng karo mangan.
(batangane: kucing)

Bapak Pucung yen kesinggung adhuh biyung,
Bisa ngejur omah,
Nadyan mobil ra preduli,
Pucung mendha lamun ta siniram tirta.
(batangane: geni)

Bapak Pucung dudu terob dudu panggung,
Pidhato lan nembang,
Kala-kala ngiwi-iwi,
Tawa barang ludruk wayang uga ana.
(batangane: televisi)

Kanthi tuladha kaya ing dhuwur diajab bisaa siswa kreatif gawe Tembang Pucung liya sing beda karo tuladhane guru kasebut. Nah, kaya mangkono iku wis nate dakuji-cobakake marang siswaku. Wah asile nges banget. pranyata siswa “besemangat” lan dadine tembange maneka warna sarta lucu-lucu.
Caraning yasa Tembang Pucung wujud cangkriman yaiku ing wiwitane kudu nemtokake dhisik batangane. Upama batangange kalung emas. Kalung iku rak cumanthel ing gulu. Yen bahane saka emas, mesthi larang regane. Lumrahe sing nganggo para wanita. Nalika den anggo nambah ayuning wanita kasebut. Wujud tembange kaya mangkene:
Pucung
Bapak Pucung manggonmu nyanthol ing gulu,
Rega tansah larang,
Karemane para putri,
Yen den anggo nambah sulistya wanita.

Sabanjure, yen siswa bener-bener paham bab Tembang Pucung lan paugerane, diterusake maneh menyang Tembang Macapat liyane. Ing kene yen arepe ngripta tembange kudu dilarasake karo watakling tembang. Tuladha yasa Tembang Maskumambang (4 gatra = 12i, 6a, 8i, 8a).
Maskumambang
Dhuh-dhuh adhuh Gusti Allah pundhen mami,
Lunturna aksama,
Mring kadangku basa Jawa,
Yeku Poer Adhi Prawata.

Sampun aweh pasiksa maring Poer Adhi,
Pambelaning basa,
Sastra lan budaya Jawi,
Tan pamrih rila legawa.

Tuladha Tembang Gambuh (5 gatra + 7u, 10u, 12i, 8u, 8o)
Gambuh
Gusti Allah Kang Luhur,
Paringana gantos pyayi agung,
Gantosing pujangga empu basa Jawi,
Kang ngabekti kathah sampun,
Suripan Sadi Hutomo.

‘Nggal wonten gantosipun,
anak-putu saking pyayi agung,
supadosa basa Jawi boten mati,
mugi wonten ingkang purun,
labuh basa lair batos.

Adhedhasar tuladha kang maneka warna lan panjurung saka guru sarta binarengi methode kang bisa mranani atining siswa, Insya Allah anak-anak dhidhik kita gelem nyemplung kanggo nyinau Tembang Macapat. Yen wis gelem nyemplung ing tembene mesthi ora bakal keduwung samangsa ketemu karo Tembang Macapat. Eh …mbok manawa Tembang Macapat kita disinau dening bangsa manca, kaya saperangan kabudayan Jawa liyane. Kita minangka guru basa Jawa aja kebak ing pangarep-arep, anaa siji utawa loro siswa wae ing saben kelas sing seneng kanthi tumemen utawa kapiadreng marang materi kita, kita kudu matur nuwun lan nedha nrima. Kanthi mangkono basa lan kasusastran kita ora bakal cures.
Kaya ngendikane ibu-ibu PKK kang bijak, anak-anak kita dudu ora seneng sayur, nanging ora ditepungake karo sayur. Mulane, ya ora mokal yen ilate durung kulina. Dadine ya ora ngerti apa iku sayur gambas, klentang, semanggi, genjer, katu, lsp. samono uga panganan kaya dene ganyong, uwi, gembili, suweg, mbote, lsp. weruhe mung dunkin donat, kentucy fried chiken, humberger, chiki, pizza, lsp. Pancen ya ora wanuh, mulane ya ora weruh saengga ora entuk kawruh, sabanjure tetep ora wawuh.